Summoner's Heart : 2. Guardian Beast

Edna terbangun saat matahari mulai keluar di ufuk timur. Dengan wajah yang masih mengantuk, ia bangkit dan membuka jendela kamarnya. Kabut tipis menyelimuti Lyvia. Gadis itu tersenyum dan kemudian bersiap. Rambut scarletnya, ia ikat dua, dipakainya seluruh perlengkapannya yang juga memiliki warna sewarna rambutnya. Sebuah palu dengan lambang keluarga Alferald, yaitu seekor naga, berada tepat disisi kirinya. Ia menatap dirinya di cermin kemudian berteriak “AKU SIAP!!” dan ia keluar kamar dengan senyum lebarnya.
“Selamat pagi, Edna. Sarapan siap, sayang.” Sapa sang ibu, Scarlet,  yang walau sudah tidak muda lagi, tetapi masih secantik dulu.
“Pagi, mama.” Sapa Edna yang langsung duduk untuk sarapan bersama mamanya.
“Apa rencanamu hari ini, sweetheart?” tanya sang mama yang walau tak nampak, tapi sangat protective terhadap anak semata wayangnya ini.
“Umm... aku akan pergi ke Bylivon Tower. Aku akan mendaftar di Craftknight Tournament. Setelah itu, aku akan pergi kehutan. Saat ini waktu terbaik mencari jamur. Lalu pergi ke Libra Guild, untuk mendapat weapon technique yang pertama.” Sahut Edna dengan mata berbinar.
Scarlet tersenyum mendengarnya. Mereka pun menyelesaikan sarapan mereka. Setelah membantu ibunya, Edna berjalan menuju pintu.
“Mama, Edna berangka—”
“Sebelum itu, sayang.” Sela Scarlet sambil berdiri didepang sang anak. “Ada hadiah untukmu.” Katanya lagi sambil menyerahkan permata-permata kecil berwarna salju yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah gelang yang cantik, Edna dapat meliaht sebuah tali ata mungkin rantai kecil yang membuat permata-permata itu tersambung sempurna. “Ini... gelang milik ayahmu. Bawalah, ini akan melindungimu.”
Edna terdiam sejenak sebelum menerimanya. “Terima kasih, mama.” Senyumnya. “Aku akan menjaganya.” Dan setelahnya ia pergi.
~...*...~
Bylivon tower, sebuah menara yang berada tepat di jantung kota Lyvia. Tempat dimana para Craft Master di negara barat berkumpul. Edna tersenyum. Dan dalam hati, ia berjanji, bahwa ia akan menjadi salah satu Craft Master. Sebelum menjadi seorang Craft Mater, ia harus menjadi seorang Craftknight yang diakui. Setidaknya, ia masuk kedalam jajaran tujuh Craftknight, sebelum benar-benar bisa mengikuti Next Generation Craft Master Tornament.
Edna benar-benar kagum saat dilihatnya, banyak sekali orang yang mengikuti turnamen ini. Dan semuanya benar-benar kelihatan sangat hebat.
“Keren, aku akan melawan orang-orang hebat ini.” Pikirnya bangga.
“Wah, wah, tak kusangka, akan mendapati Craftknight Amateur disini.” Sebuah suara menyebalkan yang Edna kenali membuat Edna berbalik.
“Oh, pagi, Geneva.” Sapa Edna, pada gadis yng seumuran dengannya itu. Geneva Rose, salah satu craftknight dari Scorpion Guild. Ada banyak rumor buruk tentang gadis itu, tapi tetap saja, gadis itu termasuk dalam salah satu craftknight terhebat di guildnya.
“Jangan sok akrab!” kata Geneva kesal. “Dengar, ya. Aku takkan kalah darimu!” tandasnya lalu pergi meninggalkan Edna.
Edna hanya tersenyum lalu menghela napas, kemudian pergi. Ia sudah selesai mendaftar dan sudah mendapatkan tiketnya.
~...*...~
Seperti yang ia katakan kepada ibunya, Edna pergi kehutan. Sebenarnya bukan hutan, hanya sebuah taman kecil dengan lebih banyak pohon. Bisa dikatakan, itulah surga milih Edna. Disana terdapat tumbuh beberapa tanaman yang biasanya Edna ambil sebagai obat atau bahan makanan. Dan sepertinya, hari ini memang hari yang tepat untuk mendapatkan jamur-jamur dengan kualitas terbaik.
“Kurasa ini sudah cukup.” Gumam Edna dan memilih untuk pulang, mengantarkan ini untuk ibunya, tepat saat ia mendengar suara merintih kesakitan. Edna meletakkan keranjangnya dibawah pohon maple lalu mendekati tempat asal suara dengan pelan. Tangan kanannya siap mengambil palu jika terjadi sesuatu hal yang membuatnya harus menggunakannya. Dibalik semak besar, seseorang atau sesuatu, tertimpa batang pohon.
Edna menyipitkan matanya. Oh! Seorang anak kecil, tapi bukan manusia. Itu...
“Teufel?” tanyanya heran. Teufel (bhs Jerman, yang berarti, Iblis) itu, memiliki mata semerah darah, rambut seputih salju, dan kulit berwarna tan. Ia memakai baju tanpa lengan berwarna hitam dan celana panjang berwarna hijau, serta sepatu berwarna hitam pekat. Tak jauh dari teufel itu, terdapat pedang besar berwarna perak, dengan hitam ditengahnya.
Edna menghela napas lalu berjalan menuju sang iblis kecil. Sang iblis yang melihat kedatangan Edna menjadi waspada. Ia tak dapat meraih pedangnya, jadi dia hanya menggeram, untuk membuat Edna menjauh, mungkin.
“Aku akan membantumu.” Kata Edna sambil mencoba mendorong batang pohon. Terlalu berat. Edna menghela napas lalu mengambil batu besar. “Aku pinjam pedangmu.” Katanya sambil mengambil pedang itu.
“Jangan sentuh pedangku, mensch!” Serunya.
Edna tetap mengambilnya. “Sayangnya, aku memerlukan pedang ini untuk membantumu.” Ujar Edna lalu membuat sebuah pengungkit.
Mata sang teufel terbelalak melihatnya. “What the hell are you doing with my sword?” serunya marah.
“Membuat sebuah pengungkit. Pedangmu memiliki material yang bagus tapi ringan, ini sangat kuat dat cocok menjadi sebuah... pengungkit.” Kata Edna sambil menekan sedikit. Batang pohon itu bergerak. “Cepat, bergerak.”
Dengan gumamam yang berisikan umpatan, sang teufel merangkak keluar. Edna menghembuskan napas lega dan mengembalikan pedang itu kepemiliknya. Teufel itu berdiri dan dengan kasar mengambil pedangnya dari tangan Edna dan meletakkannya dibelakang punggunggnya. “Aku tidak akan berterima kasih.” Katanya.
“Aku tidak mengharapkannya.” Balas Edna sambil berbalik dan berjalan, tapi ia kembali lagi saat mendengar suara terjatuh. Terlihat, sang teufel itu jatuh telungkup direrumputan. Napasnya tak beraturan. Edna menghela napas panjang, sepertinya gadis itu akan membatalkan janjinya pada Master Riems untuk pergi ke guild.
~...*...~
Teufel itu terbangun. yang pertama kali matanya tangkap adalah, langit-langit kayu. Ia duduk, tapi kepalanya masih sakit. Bergumam tidak jelas, sang teufel muda itu melihat pedangnya bersandar disebuah meja.
“Oh, kau sudah bangun.” Edna masuk dengan membawa nampan berisi sup jamur dan air putih. “Ini, makanan untukmu, pasti kau lapar.” Katanya sambil meletakkannya didepan sang teufel.
Sang teufel hanya mengangkat sebelah alisnya. “Tidak perlu, aku tidak la—” grooarr!! Suara halus dari perut sang teufel itu membuatnya bungkam. Sementara Edna tersenyum menggoda.
“Hehehe... tidak perlu malu, makan saja.”
“Kalau begitu... selamat makan.” Katanya sambil menyuap sup jamur. Setelah teufel itu selesai makan, Scarlet datang bersama Master Riems.
“Mama! Master Riems!” seru Edna.
“Ah, ini kah teufel muda yang membuatmu membatalkan janji, Edna.” Kata sang master sambil tersenyum.  “A summon creature from Feuer, an island of fire. Itu sangat jauh dari sini, bagaimana bisa kau sampai kesini? Maksudku, umurmu... baru tujuh tahun, bukan?”
Teufel itu tak menjawab, ia menatap sinis kearah Master Riems. Dan well, kelihatannya, itu bukanlah hal baik.
“Master Riems, itu tidak sopan.” Kata Scarlet lalu mendekati teufel. “Halo, namaku Scarlet, dan ini Edna, anakku. Siapa namamu?”
Teufel itu menggerak-gerakkan matanya sebelum menjawab. “Luca.” Singkat.
“Itu namamu? Indah sekali. Dan... Luca, maukah kau menceritakan bagaimana dan kenapa kau bisa sampai ke Lyvia. Dan kau ingin kemana?”
“Itu... bukan urusanmu.” Katanya pelan sambil menunduk.
“Aku rasa...” Master Riems tersenyum. “Kau... apa kau... diusir?”
Luca tersentak dan dengan tatapan ingin membunuh, ia menatap Master Riems yang masih tersenyum puas, karena tebakannya benar. “Heh, benar ternyata. Well, dan sepertinya kau tidak memiliki tujuan. Tapi aku bertanya-tanya, alasannmu di—”
“Su-sudahlah, master. Dia masih lelah.” Kata Edna cepat, sebelum suasana semakin memburuk. “Kita biarkan dia istirahat. Lagipula... itu urusan pribadi, bukan?”
“Well, yeah, kau benar.” Kata Master Riems. “Ah, tapi melihatnya, aku jadi punya ide.”
“Kuharap bukan ide yang aneh, Master Riems.” Sahut Scarlet.
“Tentu saja tidak, milady.” Ujar Master Riems. “Aku hanya berpikir, jika dia tidak memiliki tempat tujuan, kenapa dia tidak menjadi guardian beastnya Edna. Edna belum memiliki guardian beast dan guardian beast diperlukan untuk turnamen nanti.”
“Owh, itu ide yang bagus, Master Riems. Kalau dipikir, Snow dulu juga memiliki partner guardian beast, kalau tidak salah namanya Schnee.”
“Ah, a summon creature from Eis, an island of ice. Well, dia sangat penurut. Jadi, bagaimana, Edna? Luca?”
“Uh... kalau Luca tak kebaratan.” Kata Edna sambil melirik kearah Luca.
“Aku tidak memiliki alasan untuk menjadi guardian beast. Siapa juga yang ingin menjadi budak dari mensch?”
“Oh, kau memiliki alasan, Luca. Yang pertama, kau tidak memiliki tempat kembali. Dan yang kedua, kau tidak memiliki tempat tujuan. Yang ketiga, jika sampai penduduk tau, kau adalah seorang stray, mereka akan mengusirmu. Dan menjadi guardian beast tidak sama seperti budak.” Jelas Master Riems. “Dan aku berharap kau tidak menolak.”
“Kau sedang memerintahku?”
“Tidak.”
“Ugh...”
“Kalau begitu sudah diputuskan. Kau akan menjadi guardian beast nya Edna.” putus Master Riems.
“Ap-apa? Aku bahkan belum memutuskan!” seru Luca tak percaya.
Master Riems tersenyum licik. “Aku tidak suka menunggu jawaban yang sudah jelas. Jadi, besok kalian berdua, datanglah ke guild. Kalau begitu, milady, aku permisi. Ada yang harus kuurus di guild.”
“Baiklah, aku akan mengantarmu hingga kedepan.”
Dua orang dewasa itu meninggalkan dua orang yang terdiam.
~...*...~
Edna dan Luca datang ke Libra guild, walau gerutuan Luca terus saja terdengar. Mereka memasuki sebuah kamar yang luas. Disana, Master Riems dan seorang pria tua yang Edna tau adalah seorang summoner.
“Jadi kalian benar-benar datang?” pertanyaan untuk menggoda Luca itu jelas-jelas tidak digubris oleh Luca. Walau sedikit kesal juga mendengarnya. “Oke, dia Arta, seorang summoner yang akan membuat ikatan antara master dan guardian beast. Kalian siap?”
“Iya!” sahut Edna antusias. Semtara hanya terdengar gumaman dari bibir Luca.
“Well, halo, Edna dan Luca. Aku akan membuat sebuah ikatan untuk kalian berdua. Yang pertama, Edna, apa kau memiliki sebuah benda yang dapat kita jadikan sebagai ‘lambang’?”
Edna mengedipkan matanya beberapa kali. “Umm...” ia tampak berpikir lalu menatap kearah gelangnya. “Mungkin ini bisa.” Katanya sambil melepas gelang indah itu. “Ini milik ayahku, tapi sekarang itu milikku.”
“Sebuah benda dari orang yang paling kau sayangi. Ini akan membuat ikatan kalian menjadi kuat. Baiklah, kalian berdua bersiaplah. Aku akan membaca mantranya.” Arta berkomat-kamit membaca mantra yang Edna tak tahu artinya. Gelang Edna bercahaya, berpendar beberapa kali, kemudian kembali seperti semula. “Pakai kembali gelangmu. Inilah yang menjadi bukti ikatanmu dengan Luca.”
“Begitu saja?” Luca menatap Arta heran.
“Ya, begitu saja.”
Master Riems menatap Edna dan Luca bergantian. “Nah, Edna, berjanjilah kau akan menjadi seorang master sekaligus partner terbaik untuk Luca. Dan Luca, bersumpahlah, jika kau akan melindungi Edna apapun yang terjadi.”
“Aku berjanji, master.”
Luca terdiam, tampak berpikir. “Baik, aku bersumpah.”
Senyum Master Riems terkembang sempurna. “Baiklah, sekarang kalian berdua, ikuti aku.” Perintahnya sambil pergi kelantai dua. Luca mengikuti setelah Edna mengucapkan terima kasih kepada Arta. Dilantai dua terdapat enam ruangan. Master Riems berhenti disebuah pintu paling ujung. Ia membukanya. Sebuah kamar khas seorang craftknight.
“Disinilah kalian akan menempa dan membuat senjata siang dan malam. Dan mulai dari hari ini, kalian berdua akan tinggal disini.”
“Master, kau bercanda?”
“Tidak. Lagipula, ibumu, setuju. Jadi, tidak ada namanya komplain.” Tandas Master Riems tegas. “Dan dengan kalian berdua tinggal bersama, itu akan membuat ikatan kalian menjadi lebih kuat.”
“Yes, master.”
“Don’t be depressed. Bukankah kau ingin menjadi seperti ayahmu? Then, you must do this!”
“Yes, master!”
“Nah, that’a a spirit! Ok, aku akan mengajarkanmu weapon technique. Kau tidak harus membuatnya hari ini.”
“Benarkah? Okay!”
“Nah, nah, aku akan mengajarkanmu membuat sebuah pedang. Setelah itu, kau dan Luca lah, yang membuatnya sendiri.”
~...*...~
Edna telentang dikarpet. Tenaganya terkuras untuk menempa beberapa pedang yang selalu gagal. Sementara Luca, keadaannya tak terlalu jauh dari Edna.
“Uwah, so tired.” Ucap Edna. “I want take a shower.”
Luca melirik Edna. “Well, kalau begitu aku pergi.”
“Eh? Kemana?”
“Mencari udara segar.”
“Tapi Luca, kau belum tau apapun tentang kota ini. Kau bisa tersesat. Maksudku, anak-anak kan musah tersesat.”
“Kau meremehkanku?!”
“Well, tidak... mungkin.” Wajah Edna jahil.
~...*...~
Edna berdiri didepan makam, sebuah tugu untuk seorang pahlawan. “Ayah, hari ini aku mengikuti pendaftaran Craftknight Tournament. Dan... aku mendapatkan seorang partner, seorang guardian beast, walau dia agak kasar sih. Aku berharap dapat berteman baik dengannya.”
Srek... srek..
Edna menoleh. Dan... berdirilah Luca dihadapannya.
“Oh, Luca.” Senyum lebar Edna muncul. “Ada apa?”
“Hanya berjalan-jalan.” Jawab Luca. “Ini...”
“Makam ayahku.” Jawab Edna dengan senyum tipis.
“Kenapa makamnya berbeda dengan makam yang lain?”
“Um... Orang-orang bilang, ayahku adalah pahlawan, jadi mereka membuat makamnya menjadi seperti sebuah tugu.” Tutur Edna.
“Oh...”
Keheningan mulai menyapa. Edna tersenyum lagi dan kembali menatap makam.
“Ayah, ini adalah guardian beast yang aku ceritakan tadi. Dia manis kan?”
“Siapa yang kau panggil manis?” protes Luca.
Edna terkekeh. “Luca... Terima kasih, mau menjadi partnerku. Kuharap kita bisa menjadi teman yang baik.” Ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Luca menatap tangan Edna sesaat. “Yeah... tentu.” Dijabatnya tangan Edna.
~...*...~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summoner's Heart : 1. Awal Cerita

Ventilator