Hanya sebuah cerita yang udah lama kubuat dan mungkin beberapa orang sudah pernah membacanya. ini terinspirasi dari sebuah cerita yang kuubah sedemikian rupa. yah, cuma nge share doang, daripada berdebu. Banyak yang typo kayaknya

02.13 am

Dhani memeluk adiknya, Aya. Sudah enam bulan mereka tak bertemu, dikarenakan Dani bersekolah di Universitas Harvard. Ia hanya dapat berkunjung selama seminggu setiap setengah tahun sekali.
Aya senang kakak kesayangannya pulang. Ibu dan ayah mereka sudah meninggal saat ia masih sangat kecil. Di rumah hanya ada dia sendirian. Dua orang pembantu yang dipekerjakan kakaknya hanya datang setelah ia berangkat sekolah dan pergi saat ia pulang. Ia kesepian sendirian di rumah. Makanya ia sangat senang saat kakaknya pulang.
Mereka makan malam bersama. Aya banyak bercerita tentang teman-temannya dan sekolahnya. Dan seperti biasa Dhani mendengarkan sambil tersenyum.
“Kak Dhani, besok kan libur. Malam ini aku boleh begadang kan, sampai pagi dengan kakak?” seru Aya.
Dhani menggeleng. “Tidak! Kau harus tidur. Tidak baik bagi perempuan begadang, Aya.” Katanya lalu menyuruh Aya masuk kamar dan tidur. Aya sedikit merenggut lalu berbalik dan berjalan masuk kamarnya.
Dhani menghela napas lalu tersenyum. Ia berjalan masuk kekamarnya lalu membuka laptopnya, melihat saham perusahaan yang ditinggalkan ayahnya padanya. Lalu dikerjakannya beberapa hal di laptop. Hingga larut malam.
*
Dhani berhenti mengetik. Ia merenggangkan tangannya. Diliriknya jam digital dimejanya. Jam 02.13 am. Ia menguap. Ia bangkit dan berjalan menuju ranjang. Sesaat sebelum ia merebahkan dirinya ke kasur yang empuk dan hangat, terdengar jeritan adiknya.
Dhani langsung lari keluar kamar dan membuka kamar adiknya yang berada tepat diseberang kamarnya. Tampak adiknya yang sedang ketakutan merapat di dinding disudut ruangan. Aya meletakkan kedua tangannya ditelinganya. Matanya terbuka, menunjukkan ketakutan yang teramat sangat. Ia tampak seperti kucing kecil yang gemetaran dimata Dhani.
Pelan-pelan Dhani mendekati Aya. Ia berjongkok didepannya. Dengan pelan dibelainya rambut hitam Aya.
“Tenang lah, Aya. Kakak disini.” Kata Dhani lembut.
Mata coklat Aya menatap kakaknya, sedetik kemudian ia menghambur kepelukan kakaknya. “Kakak, ada sesuatu dilemariku. Aku takut.”
“Itu hanya mimpi buruk.” Kata Dhani sambil tetap mengelus-elus rambut Aya.
“Tapi... itu sangat menakutkan.”
Dhani menghela napas. Dilepaskannya pelukannya dengan pelan. Ia bangkit dan berjalan menuju lemari kayu tua disamping tempat tidur. Dhani berpikir untuk memeriksanya agar Aya tak takut dan bisa tidur nyenyak malam ini. Ia tak mau adiknya itu malah insomnia dan berakhir tidur bersamanya di kamarnya malam ini. Ia tak keberatan Aya tidur dengannya, hanya saja ia merasa cukup aneh untuk melakukannya saat mereka sudah mulai dewasa.
Dipegangnya gagang pintu, dibukanya dengan pelan. Pintu itu berderit, seperti jeritan anak kecil yang malang yang ketakutan, menimbulkan efek mengerikan pada siapapun yang mendengarnya.
Tes! Seseuatu menetes mengenai kaki Dhani. Dilihatnya banyak air berwarna merah kental mulai keluar. Dhani membelalakkan matanya lalu membukanya cepat. Ia mundur dan tercekat. Seorang lelaki jatuh berdebam didepannya. Hampir seluruh tubuhnya berlumuran darah. Tampak tangan kanan, kaki kiri, dan lehernya tergorok. Dhani hampir menjerit saat ia tahu kalau itu adalah dirinya.
“Kakak, bukankah itu menakutkan?” Dhani berbalik. Adiknya menyeringai dan menatapnya dengan tatapan sinting. Dan ada kapak ditangannya.
Dhani tertegun sesaat, lalu ia langsung berlari. Keringat dingin bercucuran. Adiknya mengejarnya sambil setengah berlari. Entah kenapa, kamar itu serasa luas dan panjang sekali, seperti terowongan gelap tanpa akhir. Dhani melompat keluar kamar dan menutup pintu dengan rapat hingga terdengar suara pintu dibanting.
“Apa yang sedang kakak lakukan didepan kamarku?” Dhani berbalik dan terkejut melihat adiknya. “Kenapa kakak terkejut seperti itu?” tanya Aya heran.
Dhani menghembuskan napas keras. “Aku tidak... me-melakukan apapun. Dan sedang apa kau disini?”
“Aku ingin pergi kekamarku, tentu saja. Bukankah baru tadi kakak menyuruhku untuk tidur? Aku baru selesai menyikat gigi.” Jelas Aya.
“Sikat gigi? Ditengah malam? Aya, sekarang sudah jam dua lewat.” Ujar Dhani.
Aya menaikkan sebelah alisnya, heran. Diliriknya jam di dinding yang menunjukkan pukul 21.12 pm. “Kakak ngelantur ya? Sekarang baru jam sembilan lewat.” Katanya sambil menunjuk jam dinding. “Sebaiknya sekarang kakak istirahat. Kakak tampak sangat lelah. Besok kakak juga dirumah saja seharian, istirahat. Tidak perlu mengurusi perusahaan. Santai saja sedikit.” Kata Aya lalu berjalan masuk ke kamarnya. “Selamat malam.”
Dhani menghela napas lalu masuk kekamarnya. Dia duduk diatas ranjang. Dipijitnya pelipisnya. Mungkin ia memang lelah. Pikirnya lalu merebahkan dirinya. Tak lama kemudian ia tertidur.
*
Dhani terbangun. Dilihatnya jam dimejanya, 02.13 am. Ia merasa haus sekali. Ia keluar kamarnya dan menuju dapur. Tampak cahaya dari dapur. Dhani mengangkat alis kirinya lalu berjalan pelan. Ia sedikit cemas kalau itu adalah pencuri.
Tampak sebuah siluet. Sebuah postur tubuh, yang sedang duduk didepan kulkas yang pintunya terbuka. Ah, itu Aya. Mungkin Aya lapar dan memakan apapun di kulkas seperti kebiasaannya dari kecil.
Dhani mengambil gelas dan dituangkannya air hingga hampir memenuhi seluruh gelas. Diminumnya sampai habis dalam dua kali teguk. Ia lap ujung bibirnya yang basah. Diliriknya adiknya yang masih makan dengan lahap.
Dhani berjalan lalu berhenti dua langkah didepan punggung adiknya. “Aya, makannya jangan banyak-banyak nanti gendut lho.” Katanya sambil tersenyum geli, membayangkan adiknya yang kurus itu gendut dalam semalam.
Aya berhenti makan dan mengangkat kepalanya. Lalu berbalik setengah badan, membuat Dhani dapat melihat apa yang sedang Aya makan. Setengah kaget dan jijik, Dhani mundur menjauhi Aya.
Aya memperhatikan kakaknya. Daging mentah yang ada ditangannya ia jatuhkan ke lantai. Lidahnya menjilat darah didekitar mulunya. Ia bangkit lalu berjalan mendekati kakaknya yang tak bisa berkata apapun melihat adiknya memakan daging mentah, entah daging apa itu.
“Kakak ingin makan juga?” tanya Aya sambil tersenyum, memperlihatkan giginya yang masih dipenuhi oleh darah.
Dhani tetap berjalan mundur tanpa memperhatikan sebuah vas dibelakangnya. Kakinya menabrak vas dan ia terjatuh kelantai dengan keras.
*
Dhani terbangun. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia terengah-engah. Ia lega itu hanyalah mimpi. Mengerikan sekali mimpi itu. Pikirnya lalu memperhatikan sekelilingnya. Ia tampak heran tertidur disofa dengan TV yang masih tetap menyala. Kapan ia menonton TV? Pikirnya heran.
Dhani tak ambil pusing. Ia langsung mematikan TV menggunakan remote. Dia langsung masuk kedalam kamarnya. Ia langsung berebah dan mencoba tidur. Berharap tak bermimpi aneh dan mengerikan. Dan ia berhasil tidur.
Dhani merasa sesak napas. Seperti ada seseorang yang sedang mencekiknya. Ia membuka matanya. Dan hal yang pertama matanya lihat adalah wajah seorang gadis yang sangat ia kenal, tersenyum mengerikan.
Aya duduk diatas perut Dhani. Tangannya mencekik leher Dhani. Dhani mencengkram tangan Aya, mencoba melepaskan cekikan Aya yang kuat. Matanya melirik jam digital di meja, 02.14 am.
“Aku kesepian kakak.” Kata Aya lirih. “Aku tak ingin kakak pergi.”
*
Dhani terbangun. Ia mengusap keringat diwajahnya. Ditutupinya mulutnya yang terengah-engah. Jangtungnya berdegup kencang. Lalu dihembuskannya napas kuat-kuat. Ia berharap kali ini ia benar-benar bangun.
Dilihatnya jam digital dimeja. Ia mengangkat sebelah alisnya heran, 02.13 am. Jantungnya mulai berdegup kencang lagi, bersamaan dengan suara senandung lirih yang semakin dekat dengan pintu kamarnya. Senandung itu berhenti. Dan pintu mulai terbuka pelan.

****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summoner's Heart : 1. Awal Cerita

Ventilator

Summoner's Heart : 2. Guardian Beast