Something Lost

Nirmala terbangun dari tidurnya. Ia menangis. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia sering bermimpi yang membuatnya menangis saat terbangun. Mimpi dengan orang yang sama dengan cerita yang berbeda. Seorang lelaki yang tak ia ketahui wajah dan namanya. Ia hanya tahu jika orang yang selalu muncul dalam mimpinya itu adalah lelaki dari postur tubuhnya, rambutnya yang pirang emas, dan senyum yang hangat.
Tapi Nirmala tak tahu siapa lelaki itu. hanya saja, ia selalu tertawa dalam mimpinya, dan lelaki itu menghilang. Saat itulah ia terbangun dengan air mata yang terus keluar dari matanya tanpa henti. Dan entah kenapa, hatinya merasakan sakit.
Nirmala mengacak-acak rambutnya. Akan lebih baik ia pergi ke tempat Rianti, psikolog ternama sekaligus sahabat dekatnya. Tanpa membuang waktu lagi, Nirmala pergi kekamar mandi.
*
Rianti membuka pintu rumahnya dan tak terkejut mendapati sahabatnya dari SMP itu datang tanpa memberitahu apapun dengan paras yang kacau. Ia tersenyum tipis dan mempersilahkan gadis berambut hitam panjang itu masuk, seolah tahu Nirmala akan datang. Atau memang tahu?
Rianti meletakkan teh dan beberapa makanan diatas meja. Nirmala hanya mengucapkan terima kasih. Keheningan terjadi beberapa saat.
“Kau tidak datang kesini hanya untuk mendapatkan obat tidur, kan?” canda Rianti, mencoba mencairkan suasana.
Nirmala tersenyum tipis. “Yah, mungkin.” Terdiam sejenak. “Rianti... akhir-akhir ini... aku mendapati mimpi yang aneh dan selalu berakhir dengan aku yang terbangun sambil menangis.” Rianti tak menyela. “Aku bermimpi tentang seorang lelaki berambut pirang—” kata-kata Nirmala terhenti saat Rianti tak sengaja menjatuhkan kue yang ditangannya.
“Maaf, aku ceroboh.” Sesal Rianti dengan raut wajah aneh. “Kau bisa teruskan.”
Nirmala terdiam, mengamati Rianti, setelah dirasa tidak ada yang aneh, ia melanjutkan. “Seorang lelaki berambut pirang. Ia selalu berada disisiku, membuatku tertawa. Dan rasanya hangat. Saat ia tersenyum, menggandeng tanganku, rasanya nyata. Seperti orang itu benar-benar ada dalam kenyataan. Lalu, lelaki itu menghilang, sambil tersenyum. Dan aku terbangun, saat itulah aku sadar. Aku menangis. Tapi aku tak tahu apa penyebabnya.” Tutur Nirmala, yang entah kenapa  menangis sambil memegang dada kirinya. “Dan hatiku terasa sakit. Rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh pisau. Aku tak mengerti.”
Rianti membuka mulutnya, seperti akan mengatakan sesuatu. Tapi lidahnya kelu, pada akhirnya ia berkata. “Tenanglah, Nirmala. Itu hanyalah mimpi.”
*
Ah, mimpi ini lagi. Nirmala melihat keluar jendela dari sebuah kabin kapal pesiar. Cuacanya tidak cukup baik. Dan rasa cemas meliputinya.
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Sebuah suara yang membuatnya nyaman terdengar.
Nirmala menoleh. Dapat dilihatnya sebuah senyum yang hangat.
“Aku disini, tepat disampingmu. Kau akan baik-baik saja.” Kata lelaki itu. “Aku mencintaimu, Nirmala.”
Nirmala tersenyum. “Aku juga mencintaimu, George.”

Nirmala terbangun, dengan air mata yang turun dari kedua pipinya. Kedua tangannya bergetar. Hatinya kembali merasakan sakit. Lelaki itu, akhirnya ia tahu namanya.
“George.” Bibirnya bergetar saat menyebutkan nama lelaki itu. Dan rasa rindu yang mendalam membuat tangisannya semakin keras.
“Kenapa aku tak dapat mengingatnya? Siapa itu George?” bisiknya disela-sela tangisannya.
*
“Akhirnya aku tahu siapa nama lelaki dalam mimpiku.” Ujar Nirmala pada Rianti. “Namanya George. Didalam mimpi kami berada didalam kabin pesawat. Aku heran, entah kenapa... semua mimpiku seperti membuat sebuah cerita.”
Tak ada jawaban. Nirmala menoleh dan mendapati Rianti yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
“Rianti?”
“Nirmala, lelaki—” kata-kata Rianti terputus karena suara ponsel. “Maafkan aku.” Katanya sambil mengangkat telpon.
Nirmala memandang Rianti. Ia penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Rianti padanya. Apakah Rianti tahu?
“Maaf, Nirmala. Ada pasien yang harus kutangani. Kita akan bicara lagi besok. Dan... akan kukatakan semuanya padamu.”
Nirmala menaikkan alisnya heran. Banyak pertanyaan yang berseliweran didalam kepalanya. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah, “ok. Aku akan datang besok.”
*
Nirmala menggenggam tangan George. Dan George menggenggam balik tangannya. Mereka berlari keluar dari lorong kapal yang panjang. Dia dapat melihat punggung tegap pria yang sedang menuntunnya, mencari jalan keluar yang aman.
“Tenang saja, sebentar lagi kita akan keluar dari lorong ini.” Suara tegas lelaki itu semakin membuat Nirmala meengeratkan genggamannya. Dan mereka akhirnya keluar. Banyak orang yang panik dan berebutan untuk menaiki sekoci. Kru kapal mengatakannya dengan jelas, bahwa yang didahulukan adalah anak-anak dan wanita.
“Nirmala, naiklah.” Pinta George sambil tersenyum.
“Tapi... bagaimana denganmu?” tanya Nirmala panik.
“Aku akan menyusulmu, tenang saja. Aku sudah berjanji padamu, bukan?”
Nirmala tak ingin melepaskan tangan George yang hangat. “Tapi... aku tak ingin berpisah darimu.”
Jari telunjuk George menyentuh bibir plum Nirmala. “Bukankah sudah kukatakan. Jika kita terpisah, bagaimanapun caranya, aku akan menemukanmu. Aku sudah berjanji. Kau percaya padaku, bukan?”
Air mata Nirmala menetes. Ia mengangguk. George mengusap air mata Nirmala dan mengecup keningnya.
“Aku mencintaimu, Nirmala.”

Nirmala menangis. Air matanya mengalir lebih deras lagi. Suaranya tertahan. Ia ingin berteriak, tapi tak bisa. Sesuatu menahannya untuk tidak berteriak. Rianti memeluknya erat.
“Rianti...”
“Maaf! Maaf! Maaf!” Kata Rianti sambil menangis.
“Ria—”
“Kau pasti sudah tahu, bukan? Semuanya. Seharusnya aku mengatakan ini padamu. Tapi aku tak ingin kau bersedih.” Rianti menundukkan kepalanya. “Itu bukanlah mimpi. Tapi ingatanmu yang hilang. Kecelakaan itu, membuat trauma yang besar. Kau bahkan hampir mati karena bunuh diri.”
“George? Bagaimana dengan George?”
Rianti mengeratkan pelukannya. “George sudah tidak ada, Nirmala. Dia sudah tidak ada.”
“Kau bohong. Dia sudah berjanji padaku.” Raung Nirmala.
“Dia sudah tidak ada. Suamimu dinyatakan meninggal. Itulah kenyataan. Maafkan aku,aku tak mengatakannya padamu.”
Nirmala menangis. Lebih keras dari biasanya. Lubang dihatinya, menganga lebih lebar. Dia menangis dipelukan Rianti.
*
Nirmala pergi ke pantai. Ditangannya, seikat bunga lili putih yang segar. Gaunnya yang juga berwarna putih berkibar diterpa angin. Air laut membasahi kaki-kakinya. Ia tersenyum tipis dan getir.
“Aku mencintaimu, George.” Bisiknya sambil melempar bunga-bunga lili cantik itu. “Aku merindukanmu.”
*
Disuatu tempat, dimana air berwarna biru karibia, dan langit tanpa awan, disebuah pantai yang hangat dan menenangkan, seorang lelaki dengan kemeja dan celana putih, berambut pirang emas tampak terdiam terpaku didepan laut.
“Nir...mala...” Bisiknya.

*



Yo!!!
Finally, bisa publikasi juga ceritanya.
walau aku yakin sih, gak terasa angst nya, apalagi hurt nya
Wehehehe
Padahal besok ada ujian... T^T

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summoner's Heart : 1. Awal Cerita

Ventilator

Summoner's Heart : 2. Guardian Beast