TELLING STORY

Klang....
Pintu putih itu terbuka dan tertutup kembali
Pandangan yang terlihat di ruangan itu adalah...
Sebuah cafe.
Atau toko boneka?
Banyak meja yang tersusuk layaknya cafe-cafe pada umumnya. Tapi tak ada satupun pengunjung. Hanya ada boneka-boneka berbentuk manusia. Banyak. Sangat banyak hingga hampir memenuhi ruangan. Tampak berkas-berkas cahaya matahari dari luar jendela.
Ditengah ruangan, ada sebuah meja bundar yang berbeda dengan yang lainnya. Sebuah sofa berwarna merah yang disekelilingnya dikelilingin boneka-boneka kecil hingga besar.
“Ah~ Selamat datang. Adalah hal yang langka melihat seseorang disini.” Ophelia, namanya. Wujud bak boneka porselein, sangat cantik, dengan rambut hitam ikal, iris mata sewarna darah, seperti sepasang ruby yang diletakkan sebagai mata boneka. Baju gothik merahnya tampak sangat cocok dengan mata dan kulitnya yang pucat.
“O ya? Kau ingin mendengar cerita?” Diletakkannya cangkir putih itu diatas meja.
Ophelia tersenyum. “Kau yakin?” kedua tangannya ia letakkan diatas pahanya.
“Sungguh seorang pemberani.” Dia tertawa kecil. “Baiklah. Nah, nikmati teh dan kue-mu selagi aku menceritakan kisah ini.”
-~*~-
.
.
.
.
Smile, my darling

Manda, seorang penulis novel, pergi ke sebuah desa terpencil di Inggris. Atas rekomendasi temannya, ia pergi ke sebuah mansion tua. Mansion itu masih bagus dan terawat dengan baik. Manda mendapatkan kunci master dari penjaga mansion. Penjaga mansion itu adalah seorang nenek, berbadan sedikit bongkok, dan kulitnya terlihat sangat keriput dan sangat pucat. Senyum nenek itu sama sekali tidak membuat Manda nyaman. Jadi, dia langsung berpamitan setelah nenek itu selesai mengajaknya berkeliling.
“Smile, my darling.” Kata nenek itu sebelum pergi.
Dan Manda sama sekali tidak memikirkan kata-kata nenek itu.
‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’
Ketik ketik ketik hapus
Ketik ketik ketik hapus
Ketik ketik ketik hapus
Selama 3 jam, hanya itu saja yang dilakukannya. Tak peduli seberapa penuh inspirasinya tempat ini, tetap saja ia tak menemukan kata-kata yang pas untuk dituangkan dalam novelnya. Dia menghela napas lelah. Deadline-nya masih lama, tapi tetap saja sangat susah untuk membuat novel yang bagus.
Diliriknya jam weker yang khusus ia bawa dari rumah. Hampir tengah malam. Ia tak bisa tidur. Akhirnya ia memilih pergi ke dapur. Mungkin dia bisa membuat sesuatu untuk snack tengah malam.
Manda membuka pintu kamarnya dan hanya lorong gelap yang hanya sedikit diterangi cahaya bulan yang menyambut matanya.
Manda hampir saja melangkah keluar kamarnya, jika saja ia tak sadar...
Ada sesuatu yang sedang menunggunya disana.Di lorong itu.
Entah darimana pemikiran itu berasal. Manda juga tak mengerti. Tapi hatinya mengatakan untuk tidak pergi dari kamar.
Manda masih berdiri disana dengan mata yang masih melihat kearah lorong itu. Hingga akhirnya ia memilih kembali masuk kedalam kamar dan pergi untuk tidur.
‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’
Manda bangun dengan wajah kusut pada paginya. Nenek penjaga mansion itu membantunya menyiapkan sarapan. Manda berterima kasih, walau tidak ia katakan.
“You’re look terrible. Are you okay? Are you tired?” Manda hampir saja menjawab, jika nenek tidak melanjutkan. “Did you see something last night? Don’t be afraid. Just smile, my darling.”
Dan nafsu makan Manda langsung menghilang seketika.
‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’
Seperti malam sebelumnya, Manda mengetik novelnya. Novelnya sudah separuh jalan. Dan walau ia merasa mengantuk, ia takkan tidur. Malam ini, otaknya bisa mendapatkan banyak kata dengan lancar. Tapi matanya tidak mau kompromi.
Pada akhirnya ia mengerang frustasi. Rasa kantuk menyebalkan ini bisa membuat idenya menghilang dengan cepat.
Tidak ada pilihan lain. Dia harus pegi kedapur dan membuat kopi.
Ia sudah bangkit dan berjalan sampai ke depan pintu. Tapi ia tak memiliki niatan sedikitpun menggunakan tangannya untuk membuka pintu. Perasaannya aneh. Firasatnya sangat buruk, seperti ‘Buka dan kau Mati!
Dan itu tentu saja tidak mungkin. Ia tertawa sedikit dalam hati. Tapi itu bukan tawa menyenangkan, karena ia sama sekali tidak bisa bergerak, ketakutan mungkin?
Setelah beberapa menit, ia akhirnya menyerah dan memilih untuk tidur. Sepenuhnya mengabaikan, ia baru saja mendengar suara bergerak lambat dari luar.
‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’
Manda merasa tidak nyaman. Ia berpikir mungkin karena ia belum bisa beradaptasi. Dan ini baru tiga hari. Tapi otaknya menyangkal pikiran itu. Karena dia sendiri tau, kalau dia adalah seseorang yang mudah beradaptasi. Dan bisa dengan mudah berbaur dengan lingkungan baru. Jadi, kenapa ia merasa tidak nyaman berada disini?
“You look sorrow. Groomy, I think. Is everything good?”
Suara nenek itu mengembalikan Manda ke dunia nyata. Ia menoleh, mendapati nenek itu berdiri disampingnya sambil tersenyum seperti biasa.
“Yeah, I think I’m good.” Bohongnya. Dia tak mau merepotkan orang lain.
“Oh, then you must smile, my darling.”
‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’ ‘’
Manda bergerak gelisah dibalik selimutnya. Malam ini dia tak mengetik novelnya. Ia memutuskan untuk pergi dari mansion ini besok. Dan ia membereskan barang-barangnya sore tadi. Nah, dia tak dapat tidur sekarang.
Insomnia, disaat yang salah. Batinnya.
Manda menghela napas dan memilih untuk bangun. Ia berpikir untuk meminum obat tidur. Dan saat itulah dia melihatnya.
Seseorang atau sesuatu sedang menatapnya dipojok ruangan, tepat disebelah pintu kamarnya.
Seluruh matanya hitam, kulitnya pucat dan keriput. Seperti seorang kakek tua yang mulai mengkerut, sekarat, mendekati kematian.
Dan kakek itu...
Dia teringat kata-kata nenek itu—
Kakek itu mulai berjalan dengan sangat lambat. Mendekatinya.
Ia tak bisa bergerak, entah kenapa ia juga susah bernapas. Walau otaknya sudah memperingatinya untuk lari, ia tak bisa bergerak se-inchi pun.
Kakek itu berhenti tepat didepannya.
—Smile, My Darling.
Dan dengan wajah sedekat itu, kakek itu tersenyum. Sangat lebar, hingga telinganya pun terbelah. Manda bisa dengan mudah melihat kegelapan di belakang gigi-gigi runcing itu.
Dan semuanya gelap.
-*-*-*-
“Teh dan kue-mu sudah habis. Dan sudah waktunya tempat ini tutup.” Ophelia tersenyum sebelum berdiri.
“Huh? Keadaan Manda? Oh, dia masih hidup. Dia langsung kembali kotanya dan menulis pengalamannya. Wah, dia menjadi sangat terkenal karena itu.” Ophelia tertawa kecil.
“Nah, nah. Kau harus pulang. Hei, jangan cemberut begitu. Kau bisa kembali kesini lagi.”
“Bahkan setelah sampai kedepan pintu pun kau masih cemberut. Ayolah. Tersenyumlah. Sampai jumpa nanti.”

                                                                                                                                                   —End 01


                                                                       ...................

Huaaaa........
Aku publish di waktu yang gak tepat.
dan bukannya nyelesai in cerita summoner malah bikin cerita horor tapi gak horor ini.
Yah, namanya juga melupakan sejenak akan perkuliahan.
Apalagi yang dujikan nanti
#pasang_wajah_lelah
Anyway, aku bakal nge publish ceritanya dengan menggunakan semua nama temenku.
Humm... itu ajalah
kalo ada waktu bakal publish cerita lainnya
.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summoner's Heart : 1. Awal Cerita

Ventilator

Summoner's Heart : 2. Guardian Beast