TELLING STORY
Klang...
Pintu putih itu terbuka dan tertutup kembali
Boneka-boneka itu tampak berbeda. Entah kenapa. Mungkin karena mata mereka
tampak lebih bersinar daripada sebelumnya.
“O ya? Kau kembali. Hehe... benar-benar seorang pemberani, eh.” Ophelia
tertawa. “Duduklah. Nikmati hidangan ini.” Ophelia menatap kedepan. Entah apa
yang dilihat mata blood ruby nya yang sedikit redup. “Nah, cerita ini
tentang...”
-~*~-
.
.
.
.
Silence
Elisa baru saja pulang dari kampus. Tubuhnya benar-benar lelah. Hari ini
jadwal kuliahnya benar-benar penuh. Yah, salah siapa yang sangat rajin
memasukkan lima mata kuliah dalam satu hari. Elisa bahkan tak punya tenaga lagi
untuk mengeluh. Yang ia pikirkan hanya tidur.
Saat ia membuka kamarnya, tak ada siapapun disana. Mungkin temannya belum
pulang atau berada di tempat temannya yang lain. Yah, Elisa tidak ingin
memikirkan hal itu. langsung saja ia berbaring di kasurnya yang nyaman.
Elisa terbangun saat hampir tengah malam. Diliriknya kasur sebelah. Tidak
ada siapapun. Mungkin teman sekamarnya itu menginap dirumah teman sekelas.
Elisa hanya mengangkat bahu, tidak peduli.
Rasa haus menyergapnya. Memaksa Elisa untuk bangkit dari kasurnya yang
nyaman. Dengan langkah terseret, berjalan keluar kamar.
Hening. Sedikit gelap. Hal yang ia tangkap saat keluar kamar. Tanpa
mempedulikan apapun, Elisa melangkah ke dapur yang berada diujung koridor. Jam
di dinding berdetak, menimbulkan suara yang aneh bagi Elisa.
Bunyi tetesan air dari wastafel. Suara samar-samar angin dari luar. Dan
suara air yang sedang ia tuangkan ke gelas kaca itu terdengar nyaring
ditelinganya.
Elisa merinding sendiri.
Krieeettt....
Suara pintu depan terbuka. Mungkin itu temannya. Elisa melirik jam. Aneh,
tidak mungkin temannya akan pulang dijam seperti ini.
Diintipnya dari pintu dapur yang lurus menghadap pintu utama. Tidak ada
siapapun. Pintu tertutup dengan rapat, seperti sebelumnya.
“Herli?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Mungkin ia salah dengar, pikirnya. Elisa
menyelesaikan minumnya, diletakkan gelasnya di atas meja. Dilirknya jam, jam
itu tidak berdetak lagi. “Rusak?” Tapi jam itu bergerak seperti biasa. Tanpa
pikir panjang, Elisa langsung berjalan cepat keluar dapur.
Hening. Malam ini benar-benar hening. Keheningan yang aneh. Karena ia tidak
bisa mendengar apapun. Termasuk suara langkah kakinya sendiri.
Itu tidak mungkin kan. Elisa tertawa dalam hati. Tapi ia sendiri tidak
dapat mendengar suara tawa dihatinya.
Ia tidak bisa mendengar apapun. Seperti, semua suara menghilang dalam
keheningan yang panjang.
Kenapa koridor ini menjadi sangat panjang?
Untuk pertama kalinya, Elisa takut akan keheningan.
---+---
Mata Ophelia bergerak kearah jam berbentuk burung hantu. “O ya, sekarang
sudah waktunya tutup. Sayang sekali, tapi datanglah lagi lain kali.”
“Hm? Akhir cerita? Ah~ tidak ada akhir kok. Lagipula, itu hanya terjadi
sekali. Dia hanya tak berani lagi keluar kamar saat tengah malam, walau apapun
yang terjadi. Dan selalu menggunakan earphone saat tidur.”
Ophelia tertawa kecil mendengar kata-katanya sendiri.
“Nah nah, sebaiknya kau pulang. Lagipula, tidak ada apapun disini selain
keheningan saat malam.”
—End 02
Komentar
Posting Komentar