TELLING STORY

Klang...
Pintu berwarna merah itu terbuka.
Sepertinya, seluruh warna didalam ruangan itu diubah. Bukan lagi berwarna putih, tapi merah. Merah velvet. Yang tidak berubah hanyalah, penataan dari meja dan boneka. Bonekanya bertambah. Sepertinya.
“Fufufu... tamu pemberani ‘kita’ datang lagi hari ini.” Ophelia berbicara sambil meletakkan boneka berbentuk kucing diatas sofa. Lalu berbalik dan duduk seperti biasanya. “Duduklah. Aku akan menceritakan kisah untukmu. Dan nikmati cemilannya.” Ophelia tersenyum.
-~*~-
.
.
.
Cat
Helena tidak suka kucing. Bukan, Helena sama sekali tidak memiliki phobia terhadap kucing. Entahlah, mungkin karena bulunya. Jadi, sebisanya dia menghindari makhluk berbulu itu.
Sialnya, seseorang yang tinggal di apartemen sebelah memelihara kucing. Suara ngeongan selalu terdengar setiap malam.
Kenapa harus ada apartemen yang memperbolehkan seseorang untuk memelihara binatang?
Helena berharap bisa pindah, tapi apartemen ini yang paling murah dan paling dekat dengan tempat kerjanya. Dan ia belum memiliki uang yang cukup untuk menyewa apartemen atau rumah.
Semoga saja bisa cepat pindah, doanya.
Meow! Meow! Meow!
Ck! Suara kucing.
Oh ayolah. Sekarang hampir tengah malam. Dia sudah lelah dengan pekerjaannya dan laporan-laporan yang dibebankan padanya. Ia ingin tidur. Bisakah kucing itu tidur dengan tenang?
Tanpa pikir panjang, Helena menyumpalkan kapas di kedua telinganya. Semoga bisa meredam suara sialan itu.
01.56 AM
Meow! Meow! Meow!
Helena terbangun dengan paksa. Sepertinya sumbatan ditelinganya lepas. Dan ya ampun! Kenapa suara ngeongan itu lebih nyaring dari sebelumnya?
Meow! Meow! Meow!
Ayolah! Apa kucing tak pernah merasakan yang namanya sakit tenggorokan.
Meow! Meow! Meow!
Argh! Rasanya Helena ingin pergi untuk menggedor pintu kamar sebelah dan memintanya untuk membuang kucing itu.
Tapi tentu saja itu takkan terjadi.
Mungkin dia akan bertanya dulu pada pemilik apartemen.
----******----
Untung hari ini Helena tidak memiliki shift kerja. Jadi, ia bisa sedikit bersantai. Dan karena itulah, ia pergi ke rumah makan yang tepat berada disebelah apartemen. Sarapan disini sangat nyaman. Dan kebetulan, ia bertemu dengan pemilik apartemen disana. Dan langsung ia tanyakan saja tentang tetangganya itu pada sang pemilik.
“Huh? Apa maksudmu, Helena? Tidak ada yang menempati apartemen disebelahmu. Disana sudah kosong selama dua tahun. Ah! Tapi aku ingat, dulu ada seorang wanita yang seumuran denganmu jika saja dia masih hidup. Dan dia sangat suka dengan kucing. Dulu dia memelihara seekor kucing. Tapi kucing itu juga meninggal, sehari setelah majikannya meninggal. Kenapa kau menanyakan hal itu?”
Helena tidak bisa memakan sarapannya lagi.
----******----
Meow! Meow! Meow!
Tak peduli berapapun kapas yang ia sumpalkan ditelinganya, tetap saja ngeongan itu terdengar. Helena tahu, ada sepasang mata yang menatapnya. Sepasang mata kucing berwarna kuning yang bercahaya dikegelapan.
Meow! Meow! Meow!
Dan Helena menyadari.
Suara ngeongan itu tidak berasal dari ruangan sebelah. Tapi disini. Dikamarnya.
----******----
“Nah, cemilannya sudah habis. Dan sekarang waktunya tutup.”
“Oh? Kondisi Helena? Dia baik. Paginya, dia langsung pindah apartemen. Dia meminjam uang dari temannya untuk mendapatkan apartemen yang lain.”
“Fufufu... kau benar-benar menyukai cerita seperti ini, eh? Well, kalau begitu kembalilah lagi nanti. Aku akan menceritakan cerita yang lain.”


—End 03

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summoner's Heart : 1. Awal Cerita

Ventilator

Summoner's Heart : 2. Guardian Beast