TELLING STORY

Klang!
Pintu merah itu kembali terbuka hari ini.
Tempat itu lebih gelap dari biasanya. Semua mata boneka, bersinar. Dengan warna yang aneh. Sedikit menakutkan.
“Fufufu... kau datang lagi. Nah, duduklah. O ya? Apa kau takut gelap?” Ophelia melirik ke sekelilingnya. “Maafkan aku. Tapi, hari ini, ada masalah dengan lampunya.”
Ophelia mengangkat cangkir emasnya. “Nah, suasana yang bagus untuk bercerita, bukan?”
-~*~-
.
.
.
Don’t Let It Out From The Dark
English Training Camp yang diadakan kampus di desa terpencil ini, membuat banyak orang antusias. Termasuk Fadli, apalagi dia masuk jurusan kelas internasional.
Setelah tahu siapa saja teman satu kelompoknya, ia bergabung dan pergi bersama menuju rumah yang akan digunakan sebagai tempat kelompoknya menginap.
Ketika sampai, sebuah rumah yang cukup besar, terlalu besar untuk kelompoknya. Hanya ada 6 orang lelaki dan termasuk dosen pembimbing. Banyak kamar yang bisa digunakan, dapur yang luas, dua kamar mandi, dan dua toilet.
“Untuk hari pertama, kita free dulu. Kalian bisa berkeliling.”
Dan tentu saja, Fadli dan yang lainnya berjalan-jalan, menuju warung kopi dan ketempat lainnya. Hanya sebentar, mereka kembali lagi kerumah.
Malamnya, mereka makan bersama, dengan kakak-kakak pembina.
“Kita akan mulai pembelajarn besok pagi, usahakan tidak terlambat.” Kata salah satu kakak pembina. “Dan, jika kalian ingin tidur, sebaiknya lampu dimatikan. Dan jangan keluar kamar tengah malam, dan ingat. Saat kalian ingin tidur, lampu dimatikan.”
Kenapa harus dikatakan dua kali?
Entahlah, Fadli hanya mengatak ‘ya’ tanpa mempedulikan hal itu. Mungkin supaya hemat listrik saja, pikirnya.
--^^^--
Ini malam terakhirnya di desa ini. Malam ini akan diadakan pesta di balai desa. Tentu saja tidak ada satupun orang yang mau ketinggalan untuk melihat penampilan-penampilan setiap kelompok. Fadli dan kelompoknya sudah menampilkan pertunjukan komedi. Dan tentu saja sukses menampilkan gelak tawa.
Terakhir, pertunjukan dari kakak-kakak pembina. Mereka penampilkan pertunjukan teater berjudul ‘Don’t Let It Out From The Dark’. Pertunjukan horor.
Pertunjukkan yang bagus, menurut Fadli.
“When you go to sleep, don’t forget for turn off the light.” Kata Pembina 1.
“Why?” tanya pembina 2
“If you forget, it’ll out from the dark. And you can see it. If you see it, you can’t run again. It’ll see you until morning. And you can’t sleep too until morning.” Jelas pembina 1.
Dan Fadli tersenyum saja. Pertunjukan horor pasti ada yang seperti itu.
45 menit kemudian, pertunjukan selesai. Pesta itu diakhiri dengan menari bersama. Fadli melirik jam tangannya. Lewat tengah malam. Ia kembali bersama teman-temannya. Sebelumnya, ia mendengar, dosen pembimbing di kelompoknya meminta mereka untuk bangun pagi, karena setelah sarapan jemputan akan datang, dan mereka kembali ke kota.
15 menit kemudian, ia sudah berbaring di kasur. Teman sekamarnya juga sudah tertidur lelap. Tapi Fadli tidak bisa tidur. Entah kenapa, matanya terus saja terbuka.
Fadli mengerang frustasi. Ia tidak ingin ketiduran saat mobil jemputan itu datang. Dan tanpa sadar, matanya mengarah ke pintu yang memang tidak pernah bisa tertutup rapat. Dan Fadli, sangat yakin, ada yang melewati kamarnya di kegelapan itu.
Oke, agak aneh. Tapi ia tidak pernah salah. Dan ia mendengar sesuatu. Berjalan sangat lambat, kearah pintu kamar. Sesuatu itu berhenti. Apakah sesuatu itu melihatnya yang masih terbangun?
Rasa dingin menyergapnya. Yang dipikirkannya hanya satu. Nyalakan lampu, sekarang juga!
Dengan pemikiran itu, ia langsung berdiri dan menyalakan lampu.
Tidak ada apapun. Tidak ada apapun atau apapun yang mengintip dari balik pintu. Fadli menghembuskan napas lega, mungkin itu hanyalah halusinasi yang dibuat otaknya.
“Ugh, kenapa lampunya menyala?”
“Maaf.” Kata Fadli. “Aku tidak bisa tidur saat ini, bisakah, lampunya tetap dinyalakan?”
“Uh, a- baiklah.” Dan temannya itu terlelap kembali.
Dan entah kenapa, Fadli malah teringat dengan pertunjukan tadi.
—“When you go to sleep, don’t forget for turn off the light.”
“Why?”
“If you forget, it’ll out from the dark. And you can see it. If you see it, you can’t run again. It’ll see you until morning. And you can’t sleep too until morning.”—
Dan saat berbaring itulah, Fadli melihatnya. Menatap lurus ke matanya. Dengan kulit kecoklatan yang keriput. Memiliki enam mata. Bibir yang terbuka lebar. Rambut yang menjuntai kebawah.
It’ll out from the dark. And you can see it. If you see it, you can’t run again. It’ll see you until morning. And you can’t sleep too until morning.
Seharusnya, dia memang tidak menyalakan lampu.
---^^^---
“Bagaimana menurutmu? Apa kau puas dengan ceritanya?” Ophelia memakan kue kering terakhir yang ada dipiring. “Fufufu... tenang saja, makhluk itu hanya menatap saja. Dia takkan melakukan apapun. Dan Fadli, oh, dia baik-baik saja. Dia tidak trauma.”
“Oh tidak. Tidak. Makhluk itu tidak mengikutinya. Apa kau khawatir?”
“O ya? Kau ingin mendengar cerita yang lain? Fufufu.... datang lah lagi nanti. Aku masih punya banyak cerita. Tapi sekarang waktunya tutup. Sampai jumpa.”


—End 04

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Summoner's Heart : 1. Awal Cerita

Ventilator

Summoner's Heart : 2. Guardian Beast