TELLING STORY
Klang!
Pintu itu terbuka.
Boneka-boneka itu
masih sama banyaknya seperti yang kemarin. Dan.... semua pakaiannya berubah.
Seperti kembali ke zaman dulu di Inggris.
“Oya, tamu
pemberani kita sudah datang. Dan membawa teman?” Ophelia menatap lurus kearah pintu.
Tidak ada siapapun
didepan pintu. Hanya ada pintu yang entah kapan tertutupnya.
“Ah, maaf,
sepertinya aku salah lihat. Tidak perlu melihat kearah pintu seperti itu.”
katanya sebelum duduk disofa. “Duduklah. Geez, apa kau selalu ingin
dipersilahkan duduk.”
“Fufufu... aku
tidak marah. Duduklah dan nikmatilah.... ceritanya.”
-~*~-
.
.
.
Behind
Sebagai ketua
English Club, Roy hampir selalu pulang malam. Dan rumahnya sangat jauh,
akhirnya ia lebih memilih untuk mengontrak rumah kecil di dekat kampus. Dan hampir
setiap malam, ia akan pulang jalan kaki.
Seperti biasa,
latihan bahasa inggris selesai tepat jam setengah sepuluh. Hampir semua anggota
sudah keluar dan pulang. kecuali Roy dan seorang lelaki yang menjadi adik
tingkatnya.
Roy berhenti
didepan pintu, saat ia mendengar namanya dipanggil.
“Apa besok malam
kita akan melakukan rapat?”
Roy menggeleng.
“Tidak.” Mereka terdiam sesaat. Dan Roy menyadari, pandangan adik tingkatnya
itu tidak mengarah padanya, tapi pada sesuatu dibelakangnya. Roy berpaling dan
tidak mendapati siapapun.
“Nah, aku pulang,
Kak.” Pamit sang adik tingkat.
“Uh... yeah. Sure.”
*^*^*^*
Roy sudah terbiasa
pulang jalan kaki. Dan tak pernah mendapat masalah apapun saat pulang. Roy
tidak pernah merasakan apapun. Tapi entah kenapa, malam ini dia merasa aneh.
Seperti... ada
seseorang yang berjalan dibelakangnya.
Tentu saja itu tak
mungkin. Tidak ada bayangan siapapun saat ia melewati lampu jalan. Dan tidak
ada suara langkah kaki kecuali langkah kakinya sendiri. Dan Roy juga tak mau
repot-repot menengok kebelakang. Karena pasti, seseorang atau sesuatu atau
apapun itu yang berjalan dibelakangnya pasti hanyalah imajinasi yang otaknya
buat. Dan mungkin itu karena cerita-cerita seram yang teman-temannya ceritakan
saat istirahat di kantin.
Jadi, Roy tetap
berjalan santai tanpa memikirkan apa-apa lagi.
Walau hatinya mulai
was-was.
Ada yang aneh.
Kenapa jantungnya memompa begitu cepat hingga ia bisa mendengar degup
jantungnya sendiri? Kenapa ia merasakan hawa dingin dikulitnya, walau ia sudah
memakai jaket tebal? Dan kenapa perasaan kalau ia tidak sendiri makin
menjadi-jadi?
Roy tidak mengerti
dan tak mau mengerti. Dia tak tahu dan tak mau tahu.
Karena, kalau ia
mencoba sekali saja mencari tahu, mencoba menengok kebelakang untuk menuntaskan
rasa penasarannya, ia merasa hidupnya tidak akan sama lagi.
Roy akhirnya
memutuskan untuk mempercepat langkahnya saja.
Jangan tengok
kebelakang! Hanya itulah
yang otaknya pikirkan.
Entah ini hanya
imajinasinya belaka, atau sesuatu itu juga mempercepat jalannya?
Keringat dingin
benar-benar membasahi seluruh area tubuh Roy. Setengah berlari, ia terus
berdo’a agar memang tidak ada apapun dibelakangnya.
Ah! Tinggal
melewati dua rumah lagi dan ia akan sampai. Dia akan aman.
Sial! Kakinya
tiba-tiba terasa mati rasa. Kenapa tiba-tiba ia merasa tidak sanggup untuk
berlari? Dan walau hatinya waspada, entah kenapa keinginan untuk menengok
kebelakang itu muncul?
Hanya melewati satu rumah lagi. Jangan menengok
kebelakang.
Kakinya terasa
berat untuk melangkah.
Roy tersenyum saat
ia berhasil mencapai pintu rumahnya. Ia merasa menang. Dengan ringan ia
mengambil kunci dan membuka pintu. Dia hanya perlu melangkah untuk masuk. Tapi
rasa penasaran itu benar-benar mengganggu.
Tapi, sekarang ia
sudah aman... kan?
Pada akhirnya, Roy
menolehkan kepalanya. Dan yang dilihatnya...
.
.
.
Tidak ada.
Tidak ada siapapun
disana. Jalan itu benar-benar sepi. Bahkan tidak ada satu suara hewan atau
serangga apapun disana.
Seharusnya Roy lega
kan?
Tapi...
Selalu ada kata
tapi. Karena, walaupun tampak sepi, Roy bisa merasakannya. Ada seseorang atau
sesuatu disana. Di jalan itu. Yang memperhatikannya. Sesuatu yang mungkin akan
membuatnya mimpi buruk. Sesuatu yang mungkin saja sebenarnya berjalan
mendekatinya dan terus menatapnya. Apapun itu, sama sekali tidak bagus.
Mungkin seharusnya
ia memang tidak menengok kebelakang.
*^*^*^*
“Kau tampak kecewa
dengan endingnya.” Ophelia memiringkan kepalanya sedikit. “Yeah, itu memang
tidak seram sama sekali. Jika bukan kau yang mengalaminya. Atau
kita ganti saja dengan ending, bagaimana jika sesuatu dibelakangmu masuk
kedalam rumahmu dan menunggu disana. Apa itu akan menjadi ending yang
bagus?” Ophelia tersenyum.
Ophelia mengangkat
sebelah alisnya. Matanya menatap lurus hingga kepintu.
Pintu itu masih
seperti sebelumnya. Masih tertutup. Tidak ada yang berubah.
“Sudah gelap.
Kuharap kau tidak berjalan sendirian. Siapa tahu ada yang mengikutimu.” Ophelia
tersenyum tipis. “Apalagi kalau sesuatu itu persis tepat dibelakangmu.
Nah, sampai jumpa lagi di lain waktu.”
—End 05
Komentar
Posting Komentar